Manajemen konflik adalah kemampuan yang wajib dimiliki oleh semua orang, terlepas apapun jabatannya. Hal ini karena partisipasi seluruh pihak akan membantu meredam konflik dengan lebih cepat. Untuk mulai mempelajarinya, Anda bisa mulai dengan memahami pengertian manajemen konflik.

Dunia bisnis sangat rentan terhadap konflik. Pemicunya beragam, mulai dari perbedaan pendapat, persaingan yang ketat, hingga perubahan dalam masyarakat. Apa jadinya bila ketegangan dibiarkan? Tentu kepentingan organisasi akan terabaikan.

Agar perkembangan bisnis tidak mandek, diperlukan manajemen konflik sebagai strategi untuk mengendalikan situasi. Apa pengertian manajemen konflik dan apakah efektif digunakan dalam dunia bisnis?

Pengertian Manajemen Konflik

Manajemen dalam bisnis berarti mengelola organisasi atau sekelompok individu untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan konflik memiliki arti pertentangan atau pertikaian antar individu maupun kelompok untuk menyingkirkan satu sama lain. 

Menurut Wartini dalam Jurnal Manajemen dan Organisasi (2015), strategi manajemen konflik dilakukan oleh pihak ketiga. Tujuannya adalah menciptakan penyelesaian konflik. Dapat disimpulkan, manajemen konflik adalah strategi pendekatan untuk mengarahkan konflik ke penyelesaian melalui komunikasi.

Tipe Manajemen Konflik

Untuk menyelesaikan konflik, kamu harus mengetahui dan mempelajari 6 tipe manajemen konflik berikut ini.

1. Accommodating

Accommodating yaitu salah satu upaya penyelesaian dengan cara mengumpulkan pendapat dari pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. Data yang ada kemudian akan dipakai untuk musyawarah. Kekurangannya, cara ini berpotensi merugikan dan membebani salah satu pihak. Sebab, pendapat yang dikumpulkan tetap berpegang pada kepentingan satu pihak saja.

2. Avoiding

Avoiding merupakan usaha untuk menghindar dari pemicu konflik. Cara ini diklaim sebagai cara paling efektif untuk menjaga dan menyelamatkan lingkungan dari potensi terjadinya konflik. 

3. Compromising

Tipe ini lebih baik daripada accommodating. Meski sama-sama mengumpulkan pendapat dari masing-masing pihak yang berkonflik, compromising memperhatikan kepentingan pendapat dari semua pihak yang terlibat. Kompromi, bisa dibilang, akan menghasilkan penyelesaian yang memuaskan bagi semua pihak tanpa ada kemungkinan menciptakan konflik baru.

Beberapa bentuk compromising antara lain:

  • Atrasi, yakni pihak yang berkonflik patuh pada keputusan yang dibuat oleh pihak ketiga.
  • Separasi, yaitu pihak yang berkonflik dipisahkan sementara sampai ada pemecahan masalah.
  • Pengambilan keputusan menggunakan faktor kebetulan, dengan aturan yang sudah dibuat dan harus disetujui semua pihak. Melempar koin, misalnya.

4. Collaborating

Collaborating adalah langkah menyelesaikan konflik melalui kerja sama demi mendapat hasil yang memuaskan dan menguntungkan untuk semua pihak. Kolaborasi merupakan salah satu strategi efektif dalam menciptakan win-win solution.

5. Competing

Melalui competing, ada pihak pemenang dan pihak yang kalah. Cara penyelesaian konflik ini mengarahkan setiap pihak yang terlibat untuk berkompetisi memenangkan kepentingan masing-masing. Tipe ini hanya cocok digunakan sebagai upaya cadangan. Alasannya, bila salah satu pihak ternyata lebih kuat, tentu hasilnya tidak efektif.

6. Conglomeration (Mixture)

Upaya menyelesaikan konflik ini menggunakan gabungan dari lima tipe sebelumnya. Oleh karena itu, prosesnya menjadi lebih rumit dan lama. Beberapa trik pun terlibat di dalamnya, seperti persuasi, rujuk, penarikan diri, tawar menawar, penekanan, pemaksaan, hingga intervensi.

Baca Juga: 7 Cara Mengatasi Konflik dalam Organisasi

Fungsi Manajemen Konflik

Selain mengetahui pengertian manajemen konflik dan tipe-tipenya, kamu juga harus tahu bahwa manajemen konflik memiliki beberapa fungsi di dalam dunia bisnis. Apa saja?

1. Menumbuhkan rasa saling menghormati

Setiap orang memiliki pendapat masing-masing. Perbedaan ini bisa menjadi pemicu konflik. Nah, fungsi manajemen konflik adalah membuat semua pihak menerima perbedaan dan mulai menghormati pendapat orang lain.

2. Mengasah kemampuan karyawan

Manajemen konflik membantu mengasah kemampuan karyawan untuk berpikir lebih logis, rasional, dan kreatif. Karyawan pun secara tidak langsung ikut memikirkan solusi untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi.

3. Evaluasi sistem

Bila tidak ada konflik dalam sebuah organisasi atau perusahaan, maka tidak ada evaluasi efektivitas sistem. Sebaliknya, konflik dapat menjadi alat untuk melihat apakah sistem sudah berjalan baik atau membutuhkan perbaikan.

Kesimpulannya, pengertian manajemen konflik adalah upaya pendekatan oleh pihak ketiga untuk mencapai penyelesaian konflik berdasarkan kepentingan bersama. Manajemen konflik juga dapat dimanfaatkan sebagai strategi pencegahan konflik. Sehingga, membantu organisasi untuk fokus pada pencapaian visi dan misi.

Manajemen strategi penting dipahami. Kamu bisa mempelajarinya melalui kursus Strategic Management di GreatNusa. Materi kursusnya lengkap, meliputi pembelajaran bentuk strategi, level strategi, serta implementasinya dalam kepemimpinan dan tata kelola perusahaan.