Beberapa waktu terakhir, istilah toxic menjadi begitu populer digunakan. Kata ini dipakai untuk merepresentasikan keadaan atau lingkungan yang tidak sehat dan cenderung berdampak pada kesehatan mental seseorang. Kondisi toxic pun dapat terjadi di mana saja—tak terkecuali di tempat kerja. Karyawan yang bekerja di lingkungan kerja toxic sangat berpotensi mengalami penurunan produktivitas dan gairah bekerja, burnout, hingga gangguan kesehatan baik psikis maupun fisik.

Lalu, apa saja tanda-tanda lingkungan kerja toxic? Berikut adalah penjelasannya.

Apa Saja Ciri Ciri Lingkungan Kerja Toxic?

Ada banyak indikator lingkungan kerja yang dapat kamu gunakan untuk mengukur apakah suatu lingkungan kerja itu sehat atau tidak. Berikut adalah beberapa di antaranya.

1. Beban Kerja Tidak Realistis

Ini adalah salah satu indikator lingkungan kerja tidak sehat yang paling mudah diamati. Karyawan yang mempunyai beban kerja tidak realistis umumnya akan sering mengalami overload tugas. Tak jarang, untuk menyelesaikannya, dia harus lembur hingga melewatkan waktu-waktu yang penting untuknya seperti jam makan, istirahat, dan sebagainya.

Beban kerja yang tidak realistis juga akan memforsir tubuh serta pikiran karyawan. Kalau sudah begitu, tak perlu heran jika si karyawan sering mengalami berbagai gangguan kesehatan dan menjadi kerap lupa (ingatan melemah).

Bagaimanapun, semua ada takarannya. Kalau kamu mengalami situasi ini, pertimbangkan kembali apakah ‘pengorbanan’-mu setara dengan risiko maupun hasil yang diterima—terutama saat upah yang diterima ternyata tidak sebanding. Bicarakan dengan atasan secara terus terang kondisi yang kamu rasakan. Apabila tak ada respons positif, maka kamu sebaiknya mulai mencari opsi pekerjaan lain yang lebih manusiawi.

2. Birokrasi Berbelit

Birokrasi berbelit menjadi salah satu penyebab mengapa sebuah perusahaan sulit berkembang—termasuk pula di dalamnya adalah karyawan yang sulit mengembangkan potensi maksimal dirinya. Gaya bekerja semacam ini masih sangat banyak diadopsi oleh perusahaan-perusahaan lama atau besar.

Birokrasi yang berbelit-belit kerap membuat karyawannya pun sulit melakukan inovasi. Situasi ini sangat berpotensi menyebabkan karyawan merasa stres, tidak nyaman, dan sulit mencapai aktualisasi diri yang diharapkan melalui pekerjaannya.

3. Minim Penghargaan Banyak Celaan

Apresiasi membuat seseorang merasa lebih dihargai dan didukung. Dalam lingkungan kerja, apresiasi akan mendorong seseorang untuk memenuhi tanggung jawab dengan lebih optimal. Ujung-ujungnya, tentu saja, pekerjaan yang diselesaikan dengan baik akan membantu perusahaan mencapai tujuannya.

Apresiasi yang dimaksud pun tidak selalu berkaitan dengan materi. Seorang atasan yang mengucapkan terima kasih kepada timnya di penghujung hari atas kinerja anggotanya misalnya, adalah sebuah bentuk apresiasi sederhana yang memberi pengaruh cukup besar.

Sebaliknya, tempat kerja yang mengabaikan pentingnya apresiasi kepada karyawannya adalah lingkungan kerja toxic. Terlebih lagi jika orang-orang di dalamnya suka mencela dan mengabaikan keberhasilan atau kebaikan seorang karyawan. Kondisi ini akan membuat karyawan menjadi tidak nyaman dan bahkan terganggu psikisnya.

4. Nilai-Nilai Perusahaan Hanya Formalitas

Tiap perusahaan mempunyai nilai-nilai tersendiri yang menjadi acuan mereka dalam bertindak dan mencapai tujuan bersama. Sayangnya, dalam banyak kasus, keberadaan nilai-nilai tersebut hanyalah sebagai formalitas dan pelengkap visi misi perusahaan saja. Bahkan tak jarang, karyawan senior hingga pucuk pimpinan pun mengabaikan nilai-nilai perusahaan dalam bertindak.

Ada banyak kejadian yang dapat dijadikan contoh hal ini seperti sebuah perusahaan yang menerapkan nilai ‘jujur’. Nilai tersebut diciptakan untuk membiasakan setiap karyawan—bahkan stakeholders lain yang terlibat—untuk senantiasa bersikap jujur. Namun, nyatanya masih banyak saja karyawan yang memanipulasi data seperti presensi, keuangan, bahkan memalsukan tanda tangan atasan untuk berbagai kepentingan.

5. Aturan Tidak Konsisten atau Tidak Jelas

Korporasi besar yang terlihat begitu stabil dan raksasa sekalipun tidak selalu bebas dari situasi ini. Aturan yang berubah-ubah pun kerap menjadi pemantik keributan di kantor.

Misal, kamu telah berhasil mencapai target penjualan dan berhak mendapat insentif sebagaimana yang dijanjikan—bahkan terlampir dalam dokumen resmi. Insentif tersebut seharusnya dibayarkan pada H+1 bulan setelah periode penjualan. Namun, yang terjadi justru jauh dari hal tersebut—insentif baru cair di H+3 bulan tanpa ada kejelasan dari pihak yang bersangkutan.

Contoh lain aturan  yang tidak konsisten adalah mengenai promosi. Sesuai kesepakatan, kamu berhak mendapat promosi setelah bekerja selama setidaknya satu tahun dengan standar prestasi tertentu (misal memenuhi target kerja, aktif di berbagai kegiatan perusahaan, dan sebagainya). Namun, setelah memenuhi seluruh kriteria tersebut, kamu ternyata tetap ditahan di posisi saat ini karena alasan karena alasan yang berbelit-belit.

6. Rekan Kerja Suka Bergosip dan Menyerang Personal

Ciri lingkungan kerja toxic lainnya adalah rekan kerja yang gemar membicarakan situasi terutama keburukan orang lain—baik sesama rekan kerja, atasan, atau bahkan orang tak dikenal di media sosial sekalipun. Lebih jauh lagi, mereka juga cenderung merendahkan bahkan membuat rumor tanpa merasa bersalah.

Selain itu, orang-orang seperti ini juga kerap menyerang personal rekan kerja lainnya. Alih-alih berfokus pada urusan profesional, mereka kerap ikut campur dan bahkan mengungkit-ungkit kehidupan personal orang lain di tempat kerja.

7. Adanya Pelecehan

Ada banyak jenis pelecehan yang terjadi, termasuk di tempat kerja. Contoh, seorang karyawan tanpa sadar memandang sebelah mata atau membawa-bawa masalah gender atau fisik kepada rekan kerjanya, seperti, “Wah, pantas saja kamu bisa dapat cepat dapat klien. Cantik, sih.”

Hal tersebut bukanlah pujian. Tak sedikit orang yang menerima ucapan tersebut justru merasa keberatan. Sebab seolah-olah, hanya kondisi fisik mereka yang dinilai alih-alih perjuangan keras maupun kepiawaian dan profesionalisme mereka dalam mencapai target.

Selain itu, masih ada banyak bentuk pelecehan lainnya. Atasan atau karyawan senior yang menegur keras atau bahkan marah kepada seorang karyawan di depan rekan kerja lainnya pun merupakan contoh pelecehan. 

8. Mengabaikan Batasan Personal

Seorang karyawan juga mempunyai kehidupan di luar pekerjaan dan kantor. Mereka memiliki keluarga, hobi, atau bahkan tanggung jawab lain yang memerlukan atensi mereka. Oleh sebab itu, akhir pekan maupun waktu di luar jam operasional kantor menjadi waktu yang sebaiknya tidak lagi dibebani oleh pekerjaan.

Sayangnya, lingkungan kerja toxic kerap melanggar batasan ini. Mengirim pesan bahkan meneror lewat telepon di luar jam kantor—terutama untuk sesuatu yang tidak mendesak—dipaksakan menjadi sebuah kenormalan. Kalau seperti ini, sangat sulit, bukan, untuk mencapai work-life balance?

Lingkungan kerja toxic ada di mana-mana. Oleh sebab itu, kamu harus cermat mengenali mana lingkungan yang sehat untuk menjadi tempatmu mencari nafkah, mewujudkan aktualisasi diri, beribadah, maupun alasan lain yang mendorongmu untuk bekerja. 

Pun kamu tak perlu takut untuk memulai kembali. Jika lingkungan kerja yang saat ini toxic dan kamu ingin mencari kesempatan lebih baik di luar, mulailah mempersiapkan diri untuk masa depan yang lebih bersahabat. Kamu dapat mengikuti berbagai kursus online untuk mengembangkan keterampilan yang dimiliki sehingga semakin meningkatkan ‘nilai jual’-mu.

GreatNusa menyediakan berbagai kursus online untuk menunjang kariermu. Mulai dari softskill seperti kemampuan berbahasa asing hingga hardskill seperti bahasa pemrograman, statistik, manajemen proyek, dan sebagainya, kamu bisa memilih kelas sesuai passion atau kebutuhan profesionalisme.